
Menyusuri Sungai Musi: Menikmati Wajah Palembang dari Atas Air – Sungai Musi bukan sekadar aliran air yang membelah Kota Palembang, melainkan nadi kehidupan yang telah menghidupi peradaban di Sumatra Selatan selama berabad-abad. Sungai terpanjang di Sumatra ini menjadi saksi tumbuhnya Kerajaan Sriwijaya, lalu berkembang bersama dinamika kolonial hingga era modern. Menyusuri Sungai Musi dari atas perahu menawarkan pengalaman yang berbeda: sebuah cara menikmati Palembang dari sudut pandang yang lebih jujur, di mana sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari masyarakat berpadu dalam satu aliran.
Dari pagi hingga malam hari, Sungai Musi selalu hidup. Perahu nelayan, tongkang pengangkut barang, hingga kapal wisata lalu-lalang tanpa henti. Di sepanjang bantaran sungai, rumah-rumah rakit berdiri sebagai simbol adaptasi masyarakat terhadap alam. Semua itu menjadikan Sungai Musi bukan hanya objek wisata, tetapi juga cerminan identitas Palembang yang sesungguhnya.
Sungai Musi sebagai Jantung Sejarah dan Budaya Palembang
Sungai Musi memiliki peran sentral dalam sejarah Palembang. Sejak abad ke-7, sungai ini menjadi jalur utama perdagangan dan komunikasi Kerajaan Sriwijaya, salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Letak strategis Sungai Musi yang terhubung dengan Selat Malaka menjadikannya jalur perdagangan internasional yang ramai, mempertemukan pedagang dari Tiongkok, India, hingga Timur Tengah.
Jejak sejarah tersebut masih terasa hingga kini. Saat menyusuri Sungai Musi, pandangan akan langsung tertuju pada Jembatan Ampera, ikon kota yang membentang megah di atas sungai. Jembatan ini bukan hanya penghubung wilayah Seberang Ulu dan Seberang Ilir, tetapi juga simbol modernisasi Palembang pascakemerdekaan. Dari atas perahu, Jembatan Ampera terlihat lebih monumental, terutama saat matahari terbenam atau ketika lampu-lampu malam mulai menyala.
Tak jauh dari jembatan, berdiri kawasan Benteng Kuto Besak, peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Benteng ini menjadi penanda kejayaan Palembang pada masa lalu dan kini berfungsi sebagai salah satu pusat aktivitas budaya dan wisata. Menikmati benteng dari sisi sungai memberikan perspektif berbeda, seolah mengajak pengunjung kembali ke masa ketika Sungai Musi menjadi jalur utama keluar-masuk kapal kerajaan.
Budaya masyarakat Palembang juga sangat lekat dengan Sungai Musi. Tradisi hidup di rumah rakit mencerminkan kearifan lokal dalam beradaptasi dengan lingkungan perairan. Dari atas perahu, wisatawan dapat melihat aktivitas warga seperti mencuci, memancing, atau sekadar bercengkerama di teras rumah yang menghadap sungai. Pemandangan ini menunjukkan bahwa Sungai Musi bukan sekadar latar belakang kota, melainkan ruang hidup yang menyatu dengan keseharian masyarakat.
Pengalaman Wisata Menyusuri Sungai Musi
Menyusuri Sungai Musi dengan perahu wisata menjadi salah satu cara terbaik untuk menikmati Palembang secara menyeluruh. Perjalanan biasanya dimulai dari dermaga di kawasan Benteng Kuto Besak atau sekitar Jembatan Ampera. Dari sini, wisatawan diajak berlayar perlahan menyusuri aliran sungai sambil menikmati panorama kota dari sisi yang berbeda.
Sepanjang perjalanan, berbagai objek menarik dapat disaksikan. Salah satunya adalah Pulau Kemaro, sebuah pulau kecil di tengah Sungai Musi yang terkenal dengan legenda cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah. Pulau ini juga menjadi pusat perayaan Cap Go Meh dan simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Palembang. Dari atas perahu, suasana Pulau Kemaro terasa tenang dan sakral, berbeda dengan hiruk-pikuk kota.
Selain itu, wisatawan juga dapat menyaksikan aktivitas ekonomi di Sungai Musi. Tongkang pengangkut batu bara dan hasil bumi melintas berdampingan dengan perahu nelayan tradisional. Pemandangan ini memperlihatkan bagaimana sungai tetap berperan penting dalam perekonomian Sumatra Selatan hingga saat ini. Sungai Musi bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga jalur distribusi yang vital.
Waktu terbaik untuk menyusuri Sungai Musi adalah sore hari. Cahaya matahari yang mulai redup menciptakan refleksi indah di permukaan air, sementara siluet bangunan dan jembatan memberikan nuansa dramatis. Saat malam tiba, wajah Palembang dari atas air berubah menjadi lebih romantis, dengan gemerlap lampu kota yang memantul di sungai.
Tak kalah menarik adalah pengalaman kuliner selama menyusuri Sungai Musi. Beberapa paket wisata menawarkan sajian khas Palembang seperti pempek, tekwan, dan pindang yang dapat dinikmati di atas perahu atau di restoran terapung. Menikmati hidangan khas sambil mengapung di Sungai Musi memberikan sensasi tersendiri yang sulit dilupakan.
Kesimpulan
Menyusuri Sungai Musi adalah cara terbaik untuk memahami Palembang secara utuh. Dari atas air, kota ini menampilkan wajah yang kaya akan sejarah, budaya, dan dinamika kehidupan masyarakatnya. Sungai Musi bukan hanya saksi masa lalu, tetapi juga bagian aktif dari kehidupan Palembang masa kini.
Pengalaman berlayar di Sungai Musi mengajarkan bahwa sebuah kota tidak hanya dapat dinikmati dari daratan. Dengan mengikuti aliran sungai, kita diajak melihat Palembang dari sudut pandang yang lebih dekat dan autentik. Sungai Musi, dengan segala cerita dan pesonanya, tetap menjadi denyut nadi yang menghidupkan Palembang dan meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang menyusurinya.